Sabtu, 09 Desember 2017

Munafik, Jangan?



Teruntuk kamu,
 yang namanya terlanjur singgah di hatiku.

Kamu pernah meninggikan wanita 

Memujinya hingga mungkin jika mereka tahu

Mereka akan meleleh bagai lilin yang dinyalakan

Kamu pernah menyinggung tentang paras dan hati seorang wanita

Dan katamu itu bukan hal yang kamu perhatikan lekat-lekat

Namun kenapa kamu ingkar? 

Lalu kamu memulai untuk menyalahkan jenismu lainnya

Yang menilai perempuan dari parasnya

Padahal aku rasa kamu termasuk didalamnya

Dan menjadi salah satu diantaranya

Aku mulai berpikir
 
Kugali lagi lebih dalam tentangmu

Wahai pria idaman atau munafik? 

Parasmu dan apa yang terlihat memang idaman

Tapi perilakumu sungguh

Munafik, jangan?

Kamu menyatakan dirimu sebagai sosok penyayang

Mungkin benar

Hingga tak ada satupun wanita yang teramat kau genggam diantara ribuan lain

Tentunya yang kau buat lekat denganmu

Benar kan?

Lalu kamu menyinggung tentang bagaimana pria menaklukkan wanita

Yang kini aku baru menyadari 

Bahwa kamu berada pada tingkat paling atas soal itu

4 komentar:

  1. Bisa saling tukar puisi?
    Ini email saya
    adolfebriantop@gmail.com.
    Saya tunggu kiriman puisimu

    BalasHapus
  2. Bisa saling tukar puisi?
    Ini email saya
    adolfebriantop@gmail.com.
    Saya tunggu kiriman puisimu

    BalasHapus
  3. Wahai wanita, terlalu indah dirimu untuk disamakan dengan lilin yang mudah meleleh itu. Lelaki memang terlalu pandai dalam hal menjaga perasaan bukan dalam artian munafik tapi menjaga. Menjaga hingga suatu hari nanti disaat terendah dalam kondisi hidupnya ada satu diantara wanita yang diberinya perhatian lebih itu menjulurkan tangan dan merangkulnya untuk bangkit berjalan bersama. Bersabarlah. Hueheheheh

    BalasHapus